Ai, Sarang, Love

Mungkin postinganku kali ini agak terkesan mainstream (salah bukan agak lagi tapi memang mainstream). dan mungkin juga akan terkesan ke kanak-kanakan. tapi memang faktor ini lah yang sedang aku alami.

Dulu aku kira jika kita bertambah umur dan semakin mengenal diri kita sendiri maka kita akan lebih mudah mengartikan apa yang kita rasakan. Aku kira semakin aku berjalan jauh semakin jelas pula apa yang aku inginkan. Ternyata kini aku merasa ragu akan teoriku saat itu. Bahkan setelah aku merasa semakin mengenal diriku, aku merasa semakin tidak mengerti apa yang aku inginkan.

 

Dia, seorang yang datang tanpa ku perhitungkan keberadaannya. Aku sejak saat itu, tak pernah benar-benar menganggap bermakna atau berarti tentang keberadaan siapapun. Sejak saat itu bagiku mereka-mereka yang datang di sekitarku hanyalah bagian dari takdir ku yang harus aku lewati tanpa pernah mempertanyakan keberadaan mereka untuk apa. Dengan seiring berjalannya waktu, tanpa terasa aku sudah terbiasa dengan keberadaannya dan nyaman akan hal itu. Akan tetapi aku tak pernah menyimpulkan perasaan ini sebagai sesuatu yang orang lain katakan adalah CINTA. Entah aku menghiraukannya atau memang aku ragu dengan perasaanku.

 

Aku tahu sejak awal bahwa itu bukanlah takdirku. Dan aku tak pernah mempermasalahkannya. Sampai akhirnya aku ada di titik ini, titik dimana aku kesal terhadap diriku sendiri yang tak tahu apa yang kubutuhkan. Menjaga jarak, itu adalah keinginanku dari awal. Dan Tuhan memudahkan jalan itu. Tetapi kenapa aku seakan ingin mempermasalahkan situasi ini. Situasi yang sejak awal aku ingin kan.

 

Pada akhirnya dia akan benar-benar lepas dan pergi ke takdirnya sendiri. Dan sampai detik ini pun, aku tak punya keberanian untuk menyimpulkan perasaanku sendiri. Entah karena aku tak ingin mengulangi kejadian yang sama seperti waktu itu. Atau karena aku sudah semakin jauh mengenal diriku yang tak pernah seutuhnya mempunyai perasaan yang sama seperti waktu itu dengan takdir ku yang kusesali.

 

Postinganku kali ini berasa seperti bukan aku yang biasanya. Tapi adakalanya memang kita akan memasuki fase-fase mainstream seperti ini lagi.😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s