Bandung, One of My Bucket List (Day 1)

Late post. Meskipun tahun baru sudah lewat. Tetapi aku tetap ingin sekali membagi ceritaku ke Bandung di blog ku ini. Sebenarnya bukan karena tidak ada waktu untuk update. Akan tetapi karena moodku yang susah sekali di ajak berkompromi. Dan akhirnya aku baru bisa share sekarang.

Kenapa Bandung ? Jika di tanya kenapa,  jawaban ku selalu sederhana. Aku ingin sekali melihat bintang. Apa hubungannya bintang dengan Bandung ? yup Bandung tempat dimana Boscha Observatorium berada. Boscha Obsevatorium adalah satu dari beberapa tempat yang paling aku ingin kunjungi dari kecil. Alasanku mengagumi Boscha mungkin terdengar sangat klise dan kekanak-kanakan. Itu karena dulu efek nonton movie “Petualangan Sherina”. Siapa sih anak 90an yang tidak kenal dengan film itu. Meskipun waktu itu nontonnya bukan di Bioskop, tetapi itu salah satu film yang bisa membuatku on fire pada saat itu. Dari situlah khayalan-khayalan untuk pergi ke Boscha di mulai. Dan satu lagi alasan ku suka Boscha, aku sangat mengagumi yang namanya langit, tinggi dan penuh cahaya. Rasanya seperti melihat kebebasan yang susah untuk ku dapatkan *walaupun sedikit agak lebay tapi ini dalam arti sebenarnya 😀 *. Sangat kekanak-kanakan bukan. Tapi itulah aku, 90% dari diriku adalah hal yang kekanak-kanakan *abaikan* .

Sebenarnya ini bukan plannig untuk merayakan new year atau edisi ngelarung lagi. Tapi karena hanya di tanggal ini punya jatah libur panjang. Planning untuk pergi ke Boscha ternyata tidak semudah yang aku khayalkan dari kecil. Walaupun sebelum berangkat aku sudah mengetahuinya jika perjalanan Bandung kali ini, tidak sesuai dengan rencana dan tujuan awal. Kenapa begitu ? karena aku sudah tahu kalau Boscha tutup dan baru di buka tgl 07 Januari 2017. Dan kenapa aku masih tetep kekeh pergi kesana. Alasannya sangat masuk akal. Aku sudah terlanjur beli tiket kerati api pulang pergi. Meskipun 90% dari diriku adalah kekanak-kanakan tapi 10% lagi adalah ke realistisan. Jadi Aku tidak mau tiket itu terbuang cuma-cuma,

Perjalananku di mulai tgl 31 Desember 2016  pukul 08.15 naik dengan kereta Pasundan di Stasiun Gubeng Surabaya. Bukan Viki namanya jika start perjalanan tidak di awali dengan hati berdebar-debar 😀 . Bukan karena aku sangat menanti atau tidak sabar dengan perjalanan ini. Tetapi karena jam keberangkatan kereta 08.15 dan pukul 08.00 aku baru sampai di stasiun wkwkwkw. Untung saja ada sodara shu R yang meskipun sedang WTF karena menjalani masa puber ke dua, datang lebih dulu daripada aku. Jadi kami masih keburu untuk print tiket dan mengejar keretanya. Maklum jarak rumahku dan stasiun harus mendaki gunung dan melewati lembah 😀 *abaikan*. Dan tiket kereta yang aku pesan adalah keberangkatan pagi (i’m not a morning person) 😀 . Jadilah aku yang harus ngebut-ngebutan bersama tukang ojek mata duitan sampai ke stasiun.

Perjalan 13 jam pun kami mulai. Kereta yang kami naiki adalah kereta ekonomi, yang tempat duduknya berhadap-hadapan dengan penumpang lain. Dari Gubeng kami berhadap-hadapan dengan sepasang suami istri yang sudah berumur sekitar 60an keatas. Mereka pasangan yang ramah dan tidak banyak tanya (i like that). Semakin tidak banyak tanya semakin aku suka 😀 . Sekitar pukul 12.00 an kereta yang kami naiki sampai di stasiun Lempuyangan Yogyakarta,  pasangan suami istri yang berhadapan dengan kamipun turun di stasiun tersebut. Digantikan oleh mba-mba yang sepertinya berasal dari daerah Bandung.

Hal yang paling aku suka jika naik kereta api adalah perjalanan. Karena banyak hal yang memanjakan mata selama perjalanan di dalam kereta. Dari mulai sawah, kebun dan perkampungan-perkampungan kecil terpapar sepanjang jalan rel kereta api. Aku bisa merasa bebas untuk sementara waktu dalam sebuah perjalanan 😀 . Bertemu dengan orang-orang asing yang tak peduli dengan tingkah lakuku, masa laluku, masa kiniku, ataupun masa depanku 😀 . Kurang kerjaan banget kalau sampai peduli, wkwkwkwk.

First time, naik kereta dengan perjalanan 13 jaman. Meskipun rasanya nano-nano, karena harus pinter-pinter ngatur posisi tempat duduk. Yang untung nya tubuhku berukuran mungil hehehe, jadi flexible dengan segala macam posisi.

Perjalanan kian lama kian larut, dan hampir pukul 12.00 malam kami sampai di stasiun Kiaracondong Bandung. Tiba di tempat yang baru pertama kali kami injak dan tidak punya kenalan siapapun untuk menjemput kami di stasiun, di tambah waktu sudah tengah malam. Hanya bermodalkan yang namanya nekat, kami pun jalan kaki ke arah yang tidak jelas dari stasiun Kiaracondong. Untung saja waktu itu malam tahun baru, jadi jalanan masih ramai dengan pawai-pawai tahun baru. Langit-langit di penuhi kembang api, berbagai motor dan anak-anak muda berlalu lalang. Kami pun masih terus melangkah ke arah yang tidak tentu 😀 . Mencoba menghabiskan waktu sampai pagi hari untuk menghemat biaya penginapan. Akhirnya tercetuslah ide di tengah rasa kantuk dan lelah di malam hari. Kami memutuskan untuk mencari mushollah dan numpang tidur di sana.

1483202385951_instasave
Tiba di stasiun Kiaracondong Bandung

Ketemulah satu mushollah di salah satu gang kecil di antara deretan pertokoan yang sudah tutup. Karena pintu untuk masuk mushollah terkunci, kami pun memutuskan untuk beristirahat di teras mushollah itu. Dan alhasil penduduk yang masih lalu lalang banyak yang memperhatikan kami, tanpa terkecuali perhatian hansip wkwkwkwkw. Dua orang hansip pun menghampiri kami. Awalnya kami berfikir kalau kami akan di usir. Tetapi ternyata hansipnya tidak melarang atau mengusir kami dari mushollah. Hanya sedikit introgasi dengan cara halus. Maklum ternyata tempat kami terlantar adalah tempat para PSK mencari nafkah. Untunglah muka-muka kami tidak ada bakat buat jadi salah satunya.

Tgl 01-01-2017 hampir pukul 03.00 pagi, kami memustuskan untuk meninggalkan mushollah dan mencari penginapan. Salah satu keuntungan di samperin oleh hansip adalah kita dapat petuah & petunjuk arah ke tempat penginapan yang kita tuju. Dan beberapa wejangan saat melancong ke Bandung. Akhirnya dengan bantuan seorang ibu yang mau berangkat ke pasar, kami naik angkot menuju Jln. Braga, tempat penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Jika menurut info dari bapak-bapak hansip sebelumya, harusnya biaya naik angkotnya hanya 5.000 rupiah per orang dari Kiaracondong ke Alun-alun Bandung (dekat Jln. Braga). Tetapi mungkin karena gaya kami kentara sekali kalau dari luar kota jadi tiap orang di tarif 10.000 rupiah. Mungkin karena kami banyak ngomong bahasa jawa dan suka manggil mas atau mba ke setiap orang jadinya kelihatan banget kalau bukan orang asli Bandung wkwkwk.Oh ya jangan kaget kalau ke Bandung manggil mas atau mba tidak ada yang menoleh wkwkwkwkwk.

Jika menurut petuah pak hansip untuk sampai ke Jln. Braga kami harus turun di alun-alun Bandung dekat Jln. Asia Afrika. Sesampainya di alun-alun kondisi masih gelap, matahari pun belum menunjukkan tanda-tanda akan muncul. Akhirnya dengan bermodal GPS handpone (keuntungan hidup di era modern) kami mencoba berjalan kaki dari alun-alun ke Jln. Braga. Sekitar pukul 04.00 kami tiba di penginapan yang sudah kami booking sebelumnya, yaitu Chez Bon Hostel. Yang info dari saudara shu R, penginapan itu milik pembawa acara kuliner yang terkenal *Kalau tidak salah Pak Bondan, efek sudah lama tidak menonton tv*.

dscn9871
Suasana alun-alun Bandung di subuh hari.

Walaupun sempat cegek, karena tarif hostel yang tidak sesuai ekspektasi di email. Tetapi karena perjuangan yang harus kami tempuh sampai ke tempat ini dan karena badan juga sudah tidak bisa di kompromi. Akhirnya kami putuskan tetap ambil penginapan di tempat itu.

Setelah mas-mas penjaga hostel kebingungan untuk melakukan reservasi *mungkin grogi melihat muka-muka aneh kami*. Akhirnya kunci loker sudah kami dapat, dan mas-mas penjaganya kemudian mengantar kami ke sebuah kamar yang berisi beberapa tempat tidur bertingat *seperti sebuah asrama*. Saat kami masuk ada dua orang penghuni yang sedang tidur di sana. Alhasil karena badan dan mataku sudah mencium bau kasur, maka langsunglah aku merebahkan diriku ke kasur. Tanpa harus mencuci muka dan sebagainya *karena toh tidak ada yang perlu di caperi juga wkwkwkwk*.

Tgl 01 Januari 2017 pagi, kami bersiap memulai perjalanan untuk mengitari kota Bandung. Planning kami untuk hari ini adalah mengeksplore Lembang. Dan meskipun tahu kalau Boscha tutup kami tetap memutuskan untuk pergi kesana. Mungkin siapa tahu ada yang berbaik hati atau kasihan dengan tampang kami jadi mau membukakan pintu gerbang Boscha. Kami sarapan pagi terlebih dahulu sebelum berangkat dengan menu sarapan yang di sediakan oleh pihak Hostel. Kita pun di suguhkan sebuah dapur yang berisi roti, telur, macam-macam selai, serta teh & kopi untuk minumannya. Di penginapan ini kita bisa menyiapkan sendiri makanan dan minuman yang kita inginkan, dengan bahan makanan dan minuman yang di sediakan tadi. Kita seperti di ajarkan mandiri dan membuat kita merasa seperti berada di rumah sendiri. Letak dapurnya sendiri ada di lantai atas, sehingga kita bisa sarapan sambil menikmati pemandangan kota Bandung dari atap Hostel.

Menu sarapan pagi di Chez Bon Hostel
Menu sarapan pagi di Chez Bon Hostel – Roti bakar selai strawberry dan secangkir teh hangat
View kota Bandung dari atap Chez Bons Hostel
View kota Bandung dari atap Chez Bons Hostel

Sambil menyantap sarapan yang sudah kami buat sendiri, kami mencoba mencari persewaan sepeda motor via internet. Dan untungnya kita ada di Bandung tgl 01 Januari, info dari salah satu temanku yang hari sebelumnya sudah tiba di Bandung banyak persewaan motor yang sudah full book.

Akhirnya kami dapat sewa motornya. Sambil menunggu kiriman motor yang kami sewa kami berkeliling mengitari sepanjang jalan Braga. Aku suka dengan suasana jalan Braga ini, sepanjang jalan berisi bangunan kedai-kedai unik, jalannya yang tidak di aspal melainkan di paving dan sepanjang jalan banyak lukisan-lukisan yang di pajang. Berjalan di jalan Braga seperti berjalan di daerah Kuta Denpasar, feelnya seperti bukan di Indonesia saja 😀

Suasana jalan Braga di Pagi hari.
Suasana jalan Braga di Pagi hari.

Sekitar pukul 11.00 siang motor kami pun akhirnya tiba, dan di mulailah perjalanan kami ke Lembang. Karena lembang adalah pusat wisata Bandung & di tambah lagi dalam edisi long weekend. Maka jangan di tanyakan lagi bagaimana macetnya perjalanan kesana. Di pertengahan jalan kami tidak perlu mengandalkan GPS lagi karena hanya dengan melihat kemacetannnya kami tahu kalau tujuan kami semua sama yaitu Lembang. Sebenarnya jika tidak macet jarak dari Bandung ke Lembang kalau di tempuh dengan sepeda motor tidak lebih dari 2 jam an. Sekitar pukul 02.00 siang kami sampai di Boscha, kami pun dengan tampang polos menuju ke pos penjaganya. Berharap ada keajaiban agar memperbolehkan kami masuk walaupun hanya sekedar melihat halamannya. Akan tetapi takdir berkata lain. Jangannya untuk masuk ke dalam obsevatoriumnya, menapaki jalan setapak yang ada di depannya saja sudah tidak mungkin *karena ada gerbang yang terkunci*. Dan karena itu bukan wilayah kekuasaan kami jadi kami tidak bisa melancarkan jurus rayuan kami wkwkwkwk.

Kami pun memutar haluan untuk pergi ke Farm House saja. Untungnya jarak Boscha ke Farm House tiak jauh. Sekitar 30 menit kami sudah sampai di Farm House. Tidak mengherankan lagi jika Farm House di penuhi oleh banyak pengunjung. Yang mengherankan dan mengejutkan kami adalah tarif tempat parkir yang berada di luar Farm House yaitu 10.000 rupiah *maklum kami kaget, semahal-mahalnya parkir di Surabaya, paling mahal mentok 5.000 rupiah*.

Harga tiket masuk ke Farm House 20.000/orang. Karcis yang kami dapat, bisa di tukar dengan minumam susu segar atau sosis. Karena sedang terjangkit kolestrol tinggi & anti yang namanya susu putih, terpaksa minuman itu kusumbangkan dengan sodara shu R wkwkwkwk *abaikan*. Disini kita juga bisa menyewa baju ala-ala Eropa untuk di buat foto-foto. Banyak spot-spot yang bagus untuk di buat foto-foto. Salah satu spot foto incaran di Farm House adalah rumah hobbit. Jadi jangan kaget jika banyak yang antri buat foto di spot itu. Setelah akhirnya antri dengan sabar, kami pun akhirnya dapat spot foto di sana juga.

img20170101124649
Karcis dapat ditukar dengan minuman susu segar atau sosis bakar
img20170101125519
Penampakan rumah hobbit Farm House *abaikan modelnya*

Selesai mengitari Farm House waktu hampir pukul 03.00 sore. Karena perjuangan kami yang luar biasa buat ke Lembang. Akhirnya kami memutuskan untuk hunting ke lokasi lain. Waktu itu tujuan yang terpikir adalah air terjun Maribaya. Lokasinya juga tidak jauh dari Lembang. Untungnya kemacetan kesana tidak separah waktu kami berangkat,  jadi tidak sampai pukul 04.000 sore kami sudah sampai di sana. Dengan biaya tiket masuk 15.000/orang, kami pun masuk ke area air terjun Maribaya. Untuk sampai ke air terjun Maribaya kami harus mendaki gunung atau lembah dulu yang kira-kira jarak nya 1-2 km lebih dan harus di tempuh dengan jalan kaki. Bagi yang mungkin fisiknya lemah tidak usah khawatir. Kalian bisa menyewa tukang ojek yang khusus mengantar ke lokasi air terjun Maribaya. Kalau tidak salah tarifnya 30.000 sekali jalan. Berhubung dompet kami yang lemah jadi kami memilih jalan kaki saja. Dan, eng ing eng.. sampai lah kami di air terjun Maribaya. Sebenarnya lokasinya tidak jelek. Hanya saja perjuangan mendaki dan melewati lembahnya tidak sebanding dengan panorama yang di dapat. Di tambah lagi kami tidak bisa bersuka ria nyebur ke dalam air terjunnya. Karena alirannya terlalu deras, sehingga disekeliling air terjunnya di beri pengaman. Membuat kami hanya bisa melihat dari jauh air terjunnya Jadi rasanya seperti kurang terpuaskan waktu sampai di air terjun Maribaya.

Air terjun Maribaya
Air terjun Maribaya

Di Wilayah Maribaya sebenarnya tidak hanya ada pemandangan air terjun saja. Disana ada beberapa gua yang bisa di kunjungi. Infonya jaraknya sekitar 5kman dari spot air terjun ini. Tenang, masih ada jasa ojek juga jika tidak kuat jalan kesana. Tetapi karena waktu yang sudah mefet jadi kami memutuskan menikmati air terjun Maribaya saja, tanpa harus ke gua-gua yang ada di sana.

Setelah mengambil beberapa foto, dan menikmati waktu lunch yang tertunda di air tejun Maribaya *meskipun menunya hanya indomie goreng*. Kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan. Dan ternyata kemacetannya lebih menggila daripada waktu kami berangkat tadi. Pada waktu di pertengahan jalan meninggalkan Lembang. Karena macetnya hampir tidak bergerak. Kami pun di beritahu oleh penduduk sekitar sebuah rute jalan pintas lain untuk balik ke Bandung. Tetapi rute jalannya tidak lah semudah yang kami bayangkan. Rute yang harus kami hadapi adalah Jalan yang sempit & hanya cukup untuk satu sepeda motor saja. Jalannyapun juga belum di aspal sehingga masih berupa tanah. Di tambah lagi jalannya yang menukik tajam ke atas seperti sisi segtiga. Akhirnya karena medannya tidak mudah, maka salah satu dari kami harus jalan kaki mendaki jalan yang menukik tajam ke atas tadi. Dan yang terpilih untuk mendaki jalan itu adalah aku. Percayalah ini bukan pengorbanan dengan sukarela, tetapi aku lebih takut tergelincir dengan sepeda motor daripada kehabisan tenaga karena mendaki gunung 😀 . Sesampainya di bagian atas di jalan yang menukik tadi, kami di suguhkan dengan pemandangan yang menyejukkan. Setidaknya bisa sedikit menhilangkan rasa remek badanku akibat mendaki jalanan tajam tadi. Inilah penampakan pemandanganya.

img20170101172540

Itulah perjalanan hari pertamaku di tanah sunda Bandung. Yang di hari pertama kuhabiskan untuk mengeksplore Lembang. Sesampainya di penginapan, waktu sudah malam hari. Malam harinya kami memutuskan untuk cari makan dan tidur saja di penginapan untuk menjaga stamina di hari ke dua. Maklum stamina kami sudah terkuras untuk perjalanan ke Lembang seharian tadi.

To be continue 😀 ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s