Magelang (Apes lagi)

Sebenarnya ini bukan cerita yang baru saja aku alami, tapi sayang banget kalau tidak aku luapkan di blog ku yang kurang penting ini 😀 . Cerita ini terjadi di bulan April, saat ada libur panjang dan beruntungnya di bulan itu aku dapat arisan di kantor. Maka berfoya-foyalah aku 😀 . Tujuan kali ini adalah ke Magelang, karena di Yogya sudah ada sodara Shu R yang sedang merantau dan bermeditasi di sana jadi bisa menghemat biaya sewa motor dan tempat tinggal. Destinasi perjalanan kali ini adalah eksplore daerah Magelang. Borobudur adalah tempat wajib untuk di kunjungi, di tambah Bukit Rhema, Punthuk Setumbu dan Sendang-sendang yang ada di Magelang sebagai destinasi lainnya.

Untuk sampai ke Magelang aku berangkat ke Yogya dulu naik kereta api tgl 14 April bersama satu teman kantorku yang kebetulan juga mau liburan ke Yogya. Awal perjalanan berjalan lancar dan tidak ada masalah apapun. Aku sampai di Yogya dengan selamat dan bisa istirahat di mess tempat sodara shu R bekerja. Walaupun sebelum berangkat kondisi fisik ku sudah sangat di uji. Kena demam dan diare yang tak kunjung berhenti, tapi so far di Yogya tidak ada masalah yang serius.  Besok paginya mulailah kami beranjak berpetualang ke Magelang, sekitar pukul 10.00 pagi kami mulai beranjak ke Magelang. Jarak Yogya ke Magelang ternyata tidak terlalu jauh, kurang lebih hanya 1 jam an. Sama seperti jarak yang kutempuh kalau ke kantor.  Tujuan pertama adalah mampir di penginapan yang terletak di dekat area Borobudur. Sebelumnya kami sudah booking di penginapan Pondok Tinggal untuk 1 room 2 bed. Harganya relatif murah banget untuk ukuran penginapan dekat Borobudur, 1 kamar 2 orang  hanya 150.000 per malam. Tempatnya pun bersih dan suasananya alami. Mayoritas dindingnya di buat dari bambu jadi penginapannya menimbulkan kesan traditional dan adem.

Susana penginapan pondok tinggal

Hari kedua, semuanya masih berjalan lancar dan sesuai dengan planning kami sebelumnya. Hari kedua kami gunakan seharian mengitari Borobudur saja. Dan bersantai di penginapan. Meskipun di Borobudur ramai dengan pengunjung tetapi kami masih tetap bisa menikmatinya dan bisa mengambil foto-foto yang bagus. Ya, agar bisa tetap survive di dunia sosial media saat ini, kualitas foto sangatlah penting wkwkwkwk.

Nah waktunya di hari ketiga & hari terakhir kami di Magelang. Kami keluar penginapan jam 04.00 subuh. Kenapa kami keluar jam segitu, hal itu demi melihat sunrise di Punthuk Setumbu, yang katanya ada background candi Borobudurnya. Untuk ke Punthuk Setumbu kami naik motor di lanjut dengan tracking sekitar kurang lebih 15-20 menitan. Sampai di atas Punthuk Setumbu bebarengan dengan adzan subuh, dari sini pertanda ke apesan mulai terlihat. Saat mau sholat di mushollah Phuntuk Setumbu air yang di gunakan untuk wudhu ternyata tidak bisa keluar. Jadilah antri panjang sampai airnya menyala. Matahari pun mulai terbit dan naik ke permukaan. Rasa kantuk dan badan yang rasanya nano-nano tadi terobati dengan melihat sunrise yang sangat indah di Punthuk Setumbu ini.

Sunrise di Punthuk Setumbu
Antara lafar dan kantuk

Next destination sebelum kembali ke penginapan buat berkemas adalah Gereja Bukit Rhema. Infonya letak Bukit Rhema tidak jauh dari Punthuk Setumbu. Akibat karena kita terlalu percaya sama yang namanya GPS, jarak ke Bukit Rhema yang sebenarnya hanya beberapa menit jadi hampir satu jaman muter-muter nurutin GPS. Pada akhirnya kami give up dan tanya ke penduduk sekitar, dan ternyata jaraknya dekat sekali dengan Punthuk Setumbu -__-‘ . Akhirnya tibalah kami ke area Bukit Rhema, untuk masuk kesana kalau tidak salah cuma bayar 10.000 atau 15.000. Dari loket tiket ke Gereja nya kita harus menaiki jalan keatas yang menukik tajam. Saat menanjaki jalan setapak itu kami ngobrol sambil membahas betapa susahnya ya mba Dian Sastro syuting AADC di sini. Kami berfikir jadi artis ternyata tidak mudah juga perjuangannya wkwkwkw. Sesampainya di atas ada beberapa kedai yang menjual makanan dan minuman. Karena kami haus dan lafar sedari subuh hanya berbekal air putih. Maka kami memutuskan untuk mampir dulu mengisi perut ke salah satu kedai. Dan saat kami asyik makan dan minum muncullah mobil pick up dari bawah naik sampai ke atas depan gereja. Seketika itu kami langsung tertawa, ketakjuban kami terhadap perjuangan mba Dian Sastro yang kami bayangkan pupuslah sudah wkwkwk. So far rasa capek naik-naik ke puncak Bukit Rhema cukup terobati dengan pemandangan yang ada di sana.

Efek bintang pocari sweat..wkwkwkwk 😀

Puas menjadi photo model di Bukit Rhema 😀 kami pun kembali ke penginapan untuk istirahat sebentar dan cari makan nasi (typical orang jawa, tidak makan kalau tidak makan nasi ). Dan lagi-lagi masakan yang kami dapat rasanya manis padahal masakannya banyak sekali cabainya. Waktu kami kembali masih sekitaran pukul 09.000 pagi. Jadi sebelum kami check out, kami istirahat melanjutkan tidur dulu. Dari sini badanku sudah mulai nano-nano. Setelah kami berkemas dan check out dari penginapan. Kami langsung meluncur ke Sendang Maren, dengan berbekal GPS saja untunglah kami tidak terlalu nyasar. Akan tetapi sesampainya disana kami langsung kena mental breakdown. Bayangkan saja tempatnya seperti area di kebun belakang rumah ku. Dan yang mandi disana isinya cowok-cowok semua. Waktu itu kami sudah ganti pakaian buat bergulat dengan air. Tapi kami langsung putar balik, gak lucu kan kalau kami renang di air yang isinya cowok-cowok telanjang dada dan mahluk ceweknya cuma kami berdua. Ditambah lokasi nya kayak di tengah kebun angker.

Tujuan pengganti selanjutnya adalah Candi Umbul. Yang katanya di sana ada kolam belerang yang sumber mata airnya hangat. Di sinilah puncak ke apesan terjadi. Saat di tengah jalan yang kiri  kanan tidak ada rumah penduduk hanya sawah-sawah belaka. Ban sepeda motor kami bocor. Alhasil sodara Shu R terus melaju mencari tambal ban sedangkan aku jalan kaki sampai ke tempat tambal ban. Untungnya di pertengahan waktu jalan kaki sodara shu R sudah mendapat tempat tambal ban. Jadi aku hanya menunggu di pinggir jalan yang sepi sambil berdiri sampai ban nya selesai di tambal (untung waktu itu di siang hari bolong).

Keapesan kami masih terus berlanjut. Setelah ban sepeda motor sudah di tambal. Kami melanjutkan perjalanan yang info dari GPS jaraknya sudah dekat tinggal 5 menit lagi. Tetapi setelah mengikuti arah yang di tunjukkan GPS kami malah muter-muter ke area pegunungan yang naik turun. Dan eng ing eng… ban yang sudah di tambal tadi bocor lagi. Oh Gosh, sekali lagi aku kena mental breakdown. Bayangkan saja kami telah melewati medan pegunungan yang naik turun yang curam dan berkelok-kelok. Dan disana tidak ada tambal ban sama sekali. Maka mau tidak mau, Sodara Shu R harus mengendarai sepeda motor yang bocor itu menerjang jalannya pegunungan. Dan aku untuk yang kesekian kalinya harus tracking lagi. Yang membuatku down banget waktu itu adalah karena kondisi fisik ku benar-benar drop. Badan ku sudah panas dingin dan isi perutku sudah menjadi angin semua. Jadi waktu aku jalan naik turun pegunungan itu rasanya seperti pasrah saja terbawa arah mata angin. Dan tiba-tiba ada seorang bapak yang lewat naik sepeda motor. Awalnya bapak itu cuman lewat saja, tetapi aku mendengar suara motornya semakin mendekat ke arahku. Karena posisi saat itu sodara shu R sudah melaju lebih dulu jadi aku berjalan sendirian di tengah pegunungan yang kanan kirinya hanya ada semak-semak. Waktu suara motor Bapak itu mendekat, dalam hatiku langsung menyebut istighfar berkali-kali berdoa agar tidak di apa-apain. Aku pun sudah pasang kuda-kuda buat siap siaga kalau-kalau di apa-apain. Bapak itu pun akhirnya buka suara, menanyakan aku mau kemana dan menawari aku tumpangan. Awalnya aku sempat ragu buat menerima ajakan Bapak itu. Berhubung karena kondisi fisikku yang sudah drop banget dan membayangkan jalan curam pegunungan yang harus aku lalui, maka aku menerimanya dengan waspada. Aku menaiki sepeda motonya dengan posisi menyamping. Pikiriku dengan duduk menyamping, tujuannya adalah agar jika aku nantinya di bawa ke tempat yang tidak jelas, aku bisa lansung loncat dan lari (walaupun aku tidak tahu mau lari kemana nantinya, yang penting lari dulu). Selama naik di motor bapak itu, dalam hatiku selalu berdoa terus agar bisa selamat sampai keluar daerah pegunungan ini. Dan Alhamdulillah, akhirnya aku selamat sampai keluar daerah pegunungan.  Aku pun mengucapkan terima kasih kepada bapak itu berulang-ulang, sambil meminta maaf dalam hati karena sempat suudzon sama Bapak itu.

Saat aku keluar daerah pegunungan, ban motor yang bocor masih proses di tambal. Kali ini tukang tambalnya adalah seorang tuna rungu. Tapi cara kerja Bapak ini sangat bagus, dia telaten banget nambal bannya. Bahkan dia yang kasih tahu bahwa yang nambal sebelumnya cuma asal-asalan tempel saja, sambil nunjukin hasil tambalannya yang kayak cuma di lem saja. Bapaknya pun nunjukin kalau plat motor kami itu bajakan. Plat motor kami batasnya Juni 2022, padahal saat itu kami ada di bulan april  2017 wkwkwkwk. Padahal dari mulai berangkat sampai ke sini kami melewati berbagai macam pos polisi, tanpa ada rasa was-was atau semacamnya wkwkwk. Ban kami pun sudah selesai di tambal. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Karena sudah kapok menggunakan GPS, maka kami memutuskan untuk tanya penduduk sekitar saja. Dan akhirnya kami selamat sampai tujuan di pemandian Candi Umbul. Untuk yang ketiga kalinya aku kena mental breakdown, tempat nya tidak sepadan dengan perjuangan kami yang mendaki gunung melewati lembah tadi. Tempatnya seperti pemandian umum biasa dan airnya keruh sekali. Di tambah lagi kamar mandinya yang tidak terawat dan bau air kencing yang kuat. Pengunjungnya pun banyak sekali yang mayoritas penduduk sekitar. Aku sempat melihat ada pengunjung yang baru datang, yang sepertinya dari luar kota juga. Kami yakin mereka seorang pelancong karena mereka memiliki ekspresi yang sama seperti kami (another mental breakdown). Ya, karena sudah terlanjur sampai dan mengingat perjuangan kami yang melelahkan. Maka aku putuskan untuk tetap berendam di sana. Airnya sih memang hangat, tetapi tidak sehangat yang kami bayangkan. Kami hanya berendam selama kurang lebih 5-10 menitan. Dari sini kami langsung putar balik ke Yogya.

Hal bagus yang kami dapat waktu berendam di Candi Umbul tadi adalah rasa capek di kaki kami yang efek naik turun gunung tadi langsung hilang. Mungkin karena efek air belerang yang berasal dari sumber mata airnya. Meskipun rasa capek di kakiku hilang tapi badanku rasanya masih tetap nano-nano karena efek demam. Akirnya kami sampai di mess sodara Shu R sekira pukul 07.00 malam. Sesampainya di mess pun kami tidak bisa langsung masuk, karena kunci rumah di bawah oleh bos sodara Shu R. Yang pukul 09.00 malam baru balik, padahal tadi aku planningnya mau istirahat dulu sebentar sebelum balik ke Surabaya naik bus malam. Aku memutuskan naik bus malam karena, tiket ekonomi kereta api ke Surabaya sudah sold out. Dan karena kebetulan ada orang kantor yang sama-sama punya tujuan ke Yogya jadi aku berani untuk memutuskan pulang naik bus.  Dan perjalanan ku ke Magelang ini aku akhiri dengan naik bus Mira yang di hargai 50.000 dengan kondisi badan adem panas dan tidak karu-karuan rasanya. Dan efeknya aku tidak bisa masuk kerja selama 3 hari akibat kondisi demamku yang belum turun-turun. Meskipun penuh liku-liku so far perjalanan ku ke Magelang kali ini tidak mengecewakan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s