Bandung, Last Day in Braga (Day 2)

Setelah di postingan sebelumnya aku sudah cerita bagaimana perjalananku ke Bandung di hari pertama. Yang rasanya penuh liku-liku kemacetan dan kepasrahan kegagalan untuk pergi ke Boscha. Kali ini aku mau melanjutkan cerita perjalananku ke Bandung di hari kedua. Di hari kedua kami di bandung ini, karena tiket pulang kami jam 9 malam jadi kami memutuskan untuk menjelajahi Bandung kotanya saja. Hari kedua ini kami mulai dengan bangun siang (ralat, hanya aku yang bangun siang wkwkwkw). Teman marga shu ku bangun lebih awal dan selalu dengan WTF nya mengusik jam pagi ku yang keramat. Padahal setelah dia mengusik ku untuk segera bangun, yang entah waktu itu jam 5 atau 6 pagi.  Dia langsung pergi mandi dan baru kembali pas setelah aku bangun kembali sekitar jam 7 an. Saat ku tanya, apa dia sambil pergi jalan-jalan pagi karena baru kembali jam 7 pagi. Ternyata tebakanku salah sodara-sodara. Selama 1 jam itu dia asik mandi di kamar mandi yang ada di luar kamar hostel. Alasannya karena kamar mandi yang di dalam kamar tidur kami untuk air hangatnya tidak berfungsi, sedangkan kami baru tahu kalau kamar mandi yang diluar air hangatnya berfungsi. Pantas saja mba-mba yang tidur di sebelahku kalau mau mandi selalu memakai kamar mandi luar.

Setelah berleyeh-leyeh di kasur beberapa saat. Akhirnya aku beranjak untuk mandi, dan akhirnya aku bisa merasakan kehangatan air di bandung. Setelah beberapa hari berkutat dengan hawa dingin. Pantas saja sodara shu R betah banget mandi sampai 1 jam an. Ritual mandi yang cukup lama pun akhirnya selesai, dan kami pun mulai naik ke atap untuk mengisi perut kami. Sambil berfikir menentukan arah dan tujuan kami hari ini, kami menikmati sarapan kami yang terakhir di chezbon hostel. Tak lama setelah itu seorang mas penjaga hostel  menghampiri kami. Sambil bercakap-cakap mengenai kehidupan dan suasana di kota Bandung ini. Mas penjaga hostel ini memberikan kami beberapa masukan tempat yang bisa di kunjungi di kota Bandung, dan beberapa saran apabila mau belanja oleh-oleh di Bandung. Info dari mas nya, Bandung memang terkenal sekali dengan pusatnya distro pakaian yang murah dan tidak berkualitas murahan. Untuk kaos-kaos yang di produksi di Bandung ini di samping bahannya bagus, designnya juga banyak dan bisa di bilang designnya limited edition. Dalam satu design kaos infonya hanya di buat untuk beberapa pcs kaos saja, katanya gak sampai 10 pcs kaos dalam design yang sama. Karena itu banyak para vokalis band yang katanya selalu beli kaos di Bandung untuk dipakai manggung.

Foto bareng sama mas penjaga hostel

Batas check out kami dari hostel adalah jam 12 siang. Jadi kami memutuskan keluar sekitan jam 11 an, sambil bersantai sebentar sampai kami check out (bersantai versi kami berdua beda. Kalau aku bersantai dengan tidur lagi, sedangkan sodara shu R melanjutkan ritualnya di atap hostel). Waktu untuk check out kami pun tiba, kami akhirnya berkemas-kemas dan mengembalikan kunci loker ke mas penjaga hostel sambil berpamitan dengan mas nya.

Setelah membahas bersama, tujuan kami selanjutnya adalah rumah almarhum Ibu Inggit  (Istri pertama Ir. Soekarno). Kami agak kesusahan mencari alamat rumahnya. Kami sudah muter-muter kesana kemari, hanya dengan bantuan mbah google. Dan sudah bertanya dengan beberapa orang, tetapi mereka banyak yang tidak tahu letak rumah Ibu Inggit. Dan untunglah ada salah satu penduduk yang mengetahuinya. Ternyata rumahnya tidak jauh dari tempat kami tanya-tanya tadi. Padahal bisa di bilang rumah itu bersejarah, tapi sungguh miris banyak warga Bandung sendiri yang tidak tahu tempatnya. Akhirnya kami sampai di depan rumah almarhum Ibu Inggit. Kemirisanku semakin berlanjut yang melihat letak lokasi rumah Ibu Inggit. Rumah beliau terletak di sebuah lingkungan pasar, yang bisa di bilang lingkungan yang kumuh. Pantas saja jarang ada penduduk yang tahu tempatnya.

Kami berjalan memasuki halaman rumah dengan melewati jalan setapak kecil di samping rumah.  Dan masuk ke bagian belakang rumah yang terlihat seperti taman kecil. Kamipun bertemu dengan abdi dalem nya dan meminta ijin untuk masuk kedalam rumah tersebut. Beliau menyambut kami dengan ramah dan sopan. Beliau akhirnya mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah dan memperbolehkan kami untuk mengambil foto-foto didalam.

Rumah Ibu Inggit, merupakan rumah minimalis yang sederhana, seperti layaknya rumah-rumah yang lain pada umumnya. Rumah itu tidak mewah, Disamping rumah ada jalan setapak yang mengarah ke bagaian belakang rumah yang di tumbuhi tanama-tanaman kecil.  Sehingga menimbulkan kesan nyaman. Jalan setapak tersebut adalah jalan masuk yang kami lewati pada saat masuk tadi. Jalan setapak tadi  berujung di halaman belakang rumah yang seperti taman kecil. Di bagian belakang ada 3 ruangan yang sepertinya di pakai kamar mandi, ruang istirahat serta dapur untuk abdi dalem rumah Ibu Inggit. Setelah masuk kedalam kami memasuki ruangan tengah yang cukup lebar ukurannya. Tempat ruang tengah berbanding lurus dengan ruang tamu di bagian depan. Di bagian kanan ruang tengah terdapat ruangan yang agak lebar juga. Sepertinya itu ruang kamar Ibu Inggit. Di bagian kiri ada sebuah ruangan kecil yang di dalamnya terdapat buku hadir buat para tamu yang datang ke rumah Ibu Inggit. Sepertinya ini ruangan kerja Ibu Inggit, saat beliau menjahit dan membuat jamu. Di bagian kanan ruang tamu terdapat ruangan kerja Pak Soekarno yang katanya dulu  sering di pakai beliau untuk bekerja dan menyusun rencana.  Di sana setiap ruangan selalu  di pajang foto-foto sejarah Ibu Inggit dengan Ir. Soekarno dari mulai masa mudanya sampai beliau meninggal. Sehingga kita dapat mengetahui sejarah Ibu Inggit dan Ir. Soekarno semasa hidupnya.

Ruangan di rumah Ibu Inggit

Setelah mengambil beberapa foto di dalam rumah Ibu Inggit, kami berbincang-bincang sebentar dengan abdi dalem nya. Kami mengobrol tentang bagaimana cerita kisah hidup Ibu Inggit semasa tinggal disini. Setelah cukup lama saling bercerita mengenai Ibu Inggit. Kami di tawari oleh abdi dalemnya untuk mengunjungi makam Ibu Inggit. Yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya Untungnya kami membawa sepeda motor jadi kami bisa langsung ke sana tanpa harus naik angkot yang katanya harus oper-oper buat sampai ke sana. Sesampainya dimakam Ibu Inggit kami di sambut oleh juru kunci makam dan beberapa warga yang sedang mengunjungi makam Ibu Inggit juga. Juru kunci dan warga di sana menyambut kami dengan ramah. Kami di persilahkan untuk masuk dan nyekar ke makam Ibu Inggit.

Makam Ibu Inggit

Sesudah kami mengunjungi makam Ibu Inggit, kami memutuskan untuk pergi ke Museum Geologi Bandung yang infonya berisi fosil-fosil hewan purba dan menampilkan sejarah manusia menurut evolusi Darwin. Letak  Museum Geologi Bandung ternyata tidak jauh dengan Gedung Sate Bandung. Planning kami setelah lihat-lihat di Museum Geologi kami lanjut ke Gedung Sate. Tapi apa daya kita hanya bisa berencana Tuhan yang berkehendak, sesampainya disana ternyata Museum Geologinya sedang tutup begitu juga dengan Gedung Sate. Ternyata kedua tempat tersebut hanya buka pada saat jam dan hari kerja saja. Kami pun, karena agak kelelahan memutuskan untuk istirahat dulu di taman dekat kedua lokasi tersebut *aku lupa taman apa*. Di situ banyak warga Bandung yang sedang menikmati liburan dengan keluarganya masing-masing. Dan pastinya banyak sekali anak-anak kecil Bandung yang hiperaktif wkwkwkwk.

Waktu sudah semakin sore dan kami pun sudah cukup beristirahat di taman di area Museum Geologi. Maka plan selanjutnya kami beralih untuk pergi shopping saja. Kami pun menuju pusat pakaian di Kota Bandung, aku lupa nama tempatnya apa. Tapi lokasinya aku ingat dekat di jalan 7 titik Bandung yang sepertinya selalu macet, karena 2 hari di Bandung tiap lewat situ selalu saja macetnya minta ampun. Di situ kami belanja aneka kaos dan jaket buat oleh-oleh. Dan benar sekali ternyata harganya murah banget dengan kualitas kaos yang bagus. Kalau belanja di Bandung kayak gini menggoda iman banget. Tidak baik bagi kelangsungan isi dompet. wkwkwkw.

Oleh-oleh sudah di tangan, dan sudah waktunya untuk mengembalikan motor sewaan kami. Karena tidak ada tempat tujuan lagi, maka kami sepakat untuk kembali saja ke Braga. Menikmati sore di Braga sampai jadwal kereta kami berangkat. Dan untungnya stasiun Bandung tidak jauh dari Braga. Kami pun menunggu mas-mas sewa motor sambil makan di salah satu tempat makan di Jl. Braga, tepatnya di depan hostel yang kami tinggali kemarin. Setelah urusan pengembalian motor kami selesai. Kami pun hanya lontang-lantung di pinggir jalan Braga, sambil memotret panorama Braga di sore hari. Jl. Braga di sore hari semakin ramai dan semakin gemerlap. Kedai-kedai di sepinggir jalan mulai menyalakan lampu-lampunya jadi pemandangan yang di hasilkan dari temarang lampu dan lukisan-lukisan di sepanjang jalan membuat mata kita termanjakan. Ahhh rasanya pingin banget berada lebih lama di sisni.

Jln. Braga di malam hari
Ngemper di Jln. Braga

Karena waktu kereta berangkat masih panjang. Maka kami pun mencari tempat untuk coffee theo saja sambil mengisi waktu. Dan kami memutuskan ke coffe shop di tempat kami makan tadi. Ternyata di lantai duanya di buat coffee shop. Nama coffe shop itu adalah Braga Coffee. Waktu masuk ke sana suasana nya masih sepi, belum ada pengunjung yang datang selain kami. Suasananya, style kami banget. Meskipun kami ini memiliki style yang beda. Tapi untuk urusan mencari tempat untuk coffee theo, kami memiliki kriteria yang sama. Yaitu tempat yang tidak terlalu rami namun bukan juga tempat yang remang-remang wkwkwkwk. Karena saat coffee theo, itu adalah ritual yang  sakral banget bagi kami wkkwkwk. Pemilik dari Braga Coffee adalah sepasang suami istri yang sepertinya usianya sudah kepala 50an. Mereka menyambut kami dengan ramah dan mengajak kami mengobrol mengenaik filosofi pembuatan Braga Coffee ini. Ternyata sepasang suami istri ini memiliki background pendidikan yang berbeda, sang suami adalah seoarang lulusan sarjana hukum, dan sang istri adalah lulusan sarjana psikiater. Mereka pun bilang kalau pola-pikir mereka juga berbeda. Karena itu tema dari Braga Coffee ini terdiri dari campuran tema hukum dan psikologi. Braga Coffee dibuat karena membuat coffee adalah hobi yang sangat di sukai oleh sang suami, dan karena sang suami sudah pensiun dari dunia hukum jadi mereka memutuskan untuk membuka Braga Coffee saja (aku lupa profesinya pengacara atau apa). Yang membuatku sangat mengagumi pasangan ini adalah, meskipun mereka memiliki cara berfikir dan background pendidikan yang berbeda. Akan tetapi mereka tetap terlihat romantis di usia mereka Sekarang. Bagi yang main-main ke Bandung, dan pecinta coffe wajib banget datang ke sini. Karena menurut sodara shu yang expert dalam urusan coffee, coffee di Braga Coffee sangat enak sekali lebih enak di banding coffee di Starbucks.

Nuansa interiornya Braga Coffee

– Alamat Braga Coffee

Alamat : Jln. Braga 34, 2nd Floor Bandung (12AM-11PM)

Instagram : braga_coffee34

Akhirnya tibalah waktu bagi kami untuk pulang dan beranjak untuk pergi ke stasiun Bandung. Letak Stasiun Bandung dekat dengan Jl. Braga, untuk pergi kesana kami menggunakan gojek yang harganya cuma 4.000 saja (murah banget kan 😀 ). Kereta pun akhirnya berangkat sesuai jadwal yaitu pukul 21.25. Dan kami pun menempuh lagi perjalanan yang panjang lagi untuk kembali ke Surabaya.

FINISH

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s